Rabu, 05 Maret 2014

PERSINGGAHAN HATI

PERSINGGAHAN HATI

Selalu saja begitu. Angin yang membelai bunga itu hanya lewat saja tanpa singgah sementara waktu untuk berbagi canda. Jikalau memang bukan rumah tempat berteduh yang nyaman, cukuplah mengetuk sebentar mahkota merekah itu. Namun tak ada yang bisa memaksa sang bayu mengudara  bebas. Walaupun harapan sang bunga bermahkota jelita terlampau langka untuk memiliki sang angin , dan membangun taman di sudut kota. Ironis, pertemanan sang sekar dan sang bayu menjadi sebuah dongeng saja.


Dalam wajah kecewa itu masih tersimpul senyum manis prahara hati yang sedang bergelora. Berapa kali engkau mengucap dan melewatinya saja tanpa berbekas. Walau dengan izin sehalus sang bayu membelai mahkota sekar, begitulah dan masih seperti itu dirimu. Atas nama rasa malu ini, tak kuasa aku menghimpun ekspresi kecewaku yang bertumpuk menggunung sedari pertemuan pertama. Melihatmu dengan senyum yang bahagia, bertindak semaumu , dan kau sudah terlalu baik menjadi seorang sahabat, walau bukan sahabat hati yang baik.


Bahkan ketika tidak ada waktu sama sekali untukku, aku tetap berusaha mencairkan alasanmu itu, mengalir seperti tak terjadi apa-apa. Sudah cukup kamu yang baik sebagai seorang laki-laki. Walau pada suatu waktu persinggahanmu ini akan pergi dengan meninggalkan senyum. Akar penerimaan eksistensi dirimu sudah terbangun kokoh, walau menjalani perbedaan dan kesabaran tak terbatas, dirimu yang membalik sikap ini dengan otomatis selalu menerima kamu apa adanya. Seakan orang menganggap ada suatu rasa istimewa diriku kepadanya, dan apalah arti keistewaan itu?seberapa dalam?. Itu semua hanya mengalir saja seperti naluri yang telah memberi cahaya di jalan kehidupan ini.


Pernah kau datang segala kesulitan dan mengadu padaku berharap akau ini menjadi malaikatmu. Dan semua itu aku terima dengan pintu terbuka, siapalah aku ini, manusia yang kelak juga akan meminta bantuan kepada orang lain. Dan hanya atas nama rasa yang aku sendiri tidak bisa mengartikannya, seperti halusnya sang banyu membelai mahkota sekar nan merekah. Aku rela menjadi apa yang kau butuhkan tanpa ada beban. Karna senyum simpulmu telah menghapus kecemasan dan kecurigaanku yang tak berasalasan.


Begitu dan seterusnya, aku tak bisa menghentikan penerimaanku dan penolakanmu. Atau kata orang waras ketidakadilan seperti ini. Mungkin aku terlau sabar atau aku terlau berlebihan, seperti anjing pesuruh dihadapanmu?. Aku hanya menyimpannya dalam ruang hati kecil ini dengan kunci rahasia yang hilang entah kemana. Tidak ada sedikitpun pemberontakan atau agresipun ketika berhadapan denganmu. Semua menjadi taman bunga yang indah ketika kata-kata terucap indah dari ruang hatimu. Dan selalu saja kau hadirkan taman itu dalam hari kita.


Terakhir ini, aku juga menerima penolakan atas janji yang telah kau ukir sendiri dengan manis. Mungkin taman itu kuanggap telah memasuki musim gugur dan bunga mulai meranggas karena panas. Hawa gerah menusuk kalbu seakan ingin berlari dalam kebisuan dan tanpa klarifikasi yang pasti. Jikalau aku telah menjadi macan ompong sedari dulu, kini ia telah bangkit dengan belangnya yang menakutkan. Kelelahan bermain di taman ilusi dan akhirnya aku berpamitan menjadi wanita yang sesungguhnya. Bukan lagi sang sekar yang rela dibuai belaian sang bayu. 
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar